Mutasi Cinta

Mutasi Cinta

Oleh : Syaukani Al Karim

(Penulis adalah Seniman dan Budayawan Riau, Jabatan Politik : Ketua DPD PAN Kabupaten Bengkalis Periode 2015 - 2020, Jabatan Organisasi : Ketua Umum KONI Kabupaten Bengkalis) 

Suatu hari, puluhan abad yang lalu, Raja Ping dari Dinasti Cin, ingin menempatkan sejumlah pejabat di lingkungan kerajaannya. Ia bertanya kepada menterinya, Qi Huangyang, tentang calon yang tepat untuk menjadi gubernur Nanyang.  

“Xie Hu, cocok untuk posisi itu,” jawab Qi Huangyang.  

“Tapi bukankah Xie Hu adalah musuh politikmu?,” kata Raja.  

“Anda bertanya tentang siapa calon terbaik untuk Nanyang, dan tidak bertanya tentang siapa lawan saya, bukan?”, jawab Qi Huangyang.  Rekomendasi Qi Huangyang ternyata benar, Xie Hu memang berhasil memimpin Nanyang.

Sekali waktu, raja bertanya, siapa yang terbaik untuk memimpin pengadilan.  

“Qi Yu dapat melakukan itu,” jawab Qi Huangyang.  

“Tapi dia anakmu, bagaimana mungkin kau merekomendasikan anak sendiri” kata Raja.  

Qi Huangyang menjawab lugas: “Anda bertanya tentang siapa yang tepat duduk di sana, dan tidak bertanya apakah Ia anak saya atau bukan.”  

Raja akhirnya menunjuk Qi Yu, dan ternyata memang berhasil menangani kasus-kasus hukum. Ketika Kong Fu Tse kemudiannya mengetahui kisah ini, sebagaimana yang dituturkan Michael Tang dalam Kisah Kisah Kebijaksanaan Cina Klasik [Refleksi bagi para Pemimpin] Ia berucap: “Qi Huangyang membuat rekomendasi tanpa prasangka, juga tak takut dengan tuduhan nepotisme. Ia lurus dalam melayani negara dan kebaikan rakyat. Ia tidak pernah membiarkan persoalan pribadinya mencampuri pekerjaannya.”

 

Salah satu__dari begitu banyak__ ukuran kebijaksanaan seorang pemimpin, adalah bagaimana Ia [atau dia] menempatkan seorang pejabat pada berbagai jenjang yang berhubungan dengan kemaslahatan rakyat. Seorang pemimpin yang baik, akan menempatkan seseorang yang tepat, meski secara pribadi Ia [atau dia] mungkin tak menyukainya. Dalam agama Islam, juga sangat ditegaskan untuk menempatkan orang sesuai dengan keahliannya, karena, jika sesuatu urusan tidak diserahkan pada orang yang tepat, maka kehancuran akan menunggu di setiap pintu.  

Tapi, di negeri ini penempatan atau penggantian seorang pejabat seringkali berlangsung dengan cara yang menyesakkan dada, dan tak sekali dua pula, berujung pada kebencian dan dendam yang panjang.

Kita pun tak menafikan,  bahwa masih banyak pejabat yang kurang tahu diri, tak lapang hati ketika diganti, tak ikhlas saat posisi terlepas, tidak introspeksi saat dimutasi. Tapi pada sisi lain, tapi tak sedikit pula hal menyesakkan itu terjadi, karena penempatan dan penggantian tidak dimainkan pada laman “kemuliaan”. Tidak adanya sebuah standar yang benar, ukuran yang berkeadilan, dan timbangan profesionalitas yang berkelas, sehingga proses itu jadi tak bernuansa keluhuran.

 

Sikap itu tentu saja memiliki pangkal, dan sulit bagi sorang pemimpin untuk melepaskan diri dari pangkal yang tak jelas pula dari mana akar kemaslahatannya. Proses politik atau pemilihan kepala daerah yang “riuh”, kadangkala membunuh kebersamaan dan nilai keluhuran.  

Proses pemilihan yang riuh dan penuh aroma: sayang, luka, suka, benci, cinta dan pedih dan dendam, entah itu pemilihan bupati gubernur, atau presiden, tak jarang pula menciptakan sebuah batas yang tegas antara  kelompok “kami” dan kelompok “kalian”. Jika “kami” dan “kalian” ini tidak disikapi secara bijak, maka berpeluang melebarkan jurang dan mengentalkan permusuhan. Yang menang mengakomodir “kami” dan mengenyahkan “kalian”, lalu yang “kalian”, berbaris pula melawan “kami”.

Inilah yang terjadi berabad-abad, dan ini jugalah yang menjadi sumber kemunduran sebuah negeri selama beribu purnama.

 

Seeloknya, ketika sebuah pesta usai dan panggung dibersihkan, kita tak boleh lagi terkurung dalam nostalgia kebencian, atau kisah masa lalu yang mengencani perpecahan. Ada sebuah kalimat manis dari khazanah lama: biarkanlah masa lalu tenggelam dalam tidurnya yang abadi. Hari ini kita sedang berjaga, melangkah menuju masa depan, dan jalan menuju masa depan itu panjang, penuh belukar, dan hanya bisa ditebas dengan kebersamaan.

 

Ketika waktu riuh selesai, semua pihak harus kembali sebagai sebuah keluarga. Yang menang memuliakan yang kalah, dan yang kalah menghormati yang menang. “Kami” dan “Kalian” kembali bergabung menjadi “Kita”,  lalu berkumpul untuk selanjutnya bekerja demi kemuliaan bersama. Tentu saja, seorang pemimpin boleh memilih dari ranah “kami” yang berkualitas,  pun elok pula memilih dari wilayah “kalian” yang baik, untuk menempati berbagai posisi, sepanjang ianya pantas untuk itu, sepanjang ianya berpotensi bagi kemaslahatan bersama.

Akibat dari penempatan pejabat yang tidah bernuansa keluhuran tentu akan mudah ditebak, yaitu akan terjadi  pergeseran orientasi. Jika selama ini birokrat menjadi pelayan publik, maka mereka akan bermetamorfosis menjadi pelayan penguasa atau partai politik. Karenanya, tidaklah menjadi hal yang mengherankan, jika dari waktu ke waktu, rakyat menjadi sesuatu yang di kesampingkan.

 

Peneraju negeri, entah itu gubernur, Bupati atau walikota, yang memerintah hari ini, punya peluang untuk memutuskan, apakah mereka akan mengisi sejarah pemerintahan mereka dengan kearifan yang dangkal atau menciptakan sebuah iklim baru, yang kelak akan membuat dirinya dapat dikenang dengan manis.

Berhentilah menjadi penguasa, karena kekuasaan akan didatangi dengan perlawanan, sementara kepemimpinan akan dikunjungi oleh ketaatan. Pemimpin, seperti kata Sam Houston, [presiden pertama republik Texas sebelum bergabung dalam unifikasi Amerika Serikat] adalah sosok yang memperbaiki, memperbaiki sesuatu yang buruk menjadi baik, dan membuat yang baik itu berguna bagi kepentingan orang banyak.

 

Kekuasaan yang menguasai dengan sekehendak hati bukanlah sesuatu yang abadi, tapi hanya akan menjadi sempadan dalam kisah-kisah teladan. Para peneraju negerilah yang memutuskan, apakah kelak ingin akan diantar dengan cinta atau dengan  nista, dengan hati yang suci atau dengan caci yang tak terperi,  dengan kasih atau dengan pedih, dengan bahagia atau dengan segumpal nestapa. Kami bermimpi mencintaimu, dengan sebuah kasih yang penuh, hingga ‘rasa’ kepadamu tak terwakili lagi oleh sekedar kata cinta.

 

Datanglah kepada kami sebagai pemimpin, yang berhasrat memperbaiki dan memperelok keadaan. Seorang pemimpin yang dapat merajut benang-benang nan tak sewarna menjadi sebuah kain kasih yang cantik.

Pemimpin mengaransemen tangis, sedih perih dan nestapa, menjadi nyanyian bahagia. Kami rindu pemimpin yang menyediakan sebuah meja sayang, tempat cinta, luka, benci, dan dendam, dapat berbincang dan bersembang  tanpa bimbang. Yang menyediakan sebuah [ha] laman tempat segala macam ragam bentuk sorai berpadu, tempat segala permainan menemukan kegembiraan.

Datanglah kepada kami sebagai sosok yang memperbaiki, sebagai seorang pemimpin yang melakukan fungsi imam dan khulafa.

 

Perbaikilah semua ini, agar kami dapat memperbaiki cinta kepadamu.***