Pulang Ke Rumah Kebudayaan

Pulang Ke Rumah Kebudayaan

Oleh : Syaukani Alkarim

( Seniman Muda Riau Bermastautin di Bengkalis, Jabatan Politik : Ketua DPD PAN Kabupaten Bengkalis, Jabatan Organisasi : Ketua Umum KONI Kabupaten Bengkalis )

Pengetahuan kita atas sesuatu, akan membuat kita berkuasa atas sesuatu itu, atau bahkan melebihi dari sesuatu yang kita pahami. Begitu pula ihwalnya ketika kita menguasai kebudayaan, baik kebudayaan kita sendiri maupun kebudayaan dan peradaban orang lain. Pengetahuan tentang sebulat kebudayaan itu, senilai sebuah negara atau bahkan segugusan imperium. Sebuah komunitas atau masyarakat, komunitas mana pun juga, selalu tumbuh dengan sejarah, peradaban dan mimpinya masing-masing, dan siapa yang mengetahui dan memahami hal tersebut, akan memiliki sebuah kekuatan besar, untuk bisa melakukan tindakan-tindakan yang mencengangkan di tengah-tengah masyarakat yang dipahaminya.  

Nabi Sulaiman [abad 10 SM] tidak memerlukan tentara ketika menguasai negeri Saba’. Dengan segala pengetahuannya tentang negeri itu, tentang karakter masyarakat,  dan dengan mempelajari sejumlah informasi aktual yang diberikan oleh burung hud hud, Ia tidak hanya mendapatkan sebuah negeri yang bernama Saba’, tidak hanya mendapatkan ratu Balqis yang cantik, seksi dan semampai, tapi juga berhasil menyempurnakan tugas langit, meluaskan wilayah recupan iman. Dengan memahami “pengetahuan kebudayaan” yang diberikan Tuhan, dan menggunakannya dengan baik, Sulaiman juga hampir menguasai segala makhluk, baik makhluk kasat mata maupun makhluk maya [gaib].

 

Pengetahuan kebudayaan pula, yang membuat Hernando Cortes [1845-1547], hanya dengan berbekal 800 prajurit berhasil menaklukkan Tenochtitlan, ibukota kerajaan Aztec yang berpenduduk lima juta orang, dan sekaligus menjungkalkan Montezuma II, sang raja. Pada 8 November 1519 itu,  Cortes tak memasuki Tenochtitlan dengan kepulan debu dari kaki kuda, tidak dengan gemerincing pedang atau lentuman meriam, juga tidak dengan melakukan kepungan berbulan-bulan seperti dalam  kisah perang klasik Cina, tapi Ia hanya datang dengan “pengetahuan yang cukup” tentang budaya dan mimpi bangsa Aztec.

Cortes tahu, bahwa rakyat Aztec selalu mempersiapkan diri untuk menyambut seorang dewa [mungkin seorang Ratu Adil bergaya Indian] yang berjanji untuk datang lagi mengunjungi orang-orang Indian, sebelum kembali “merantau” lewat Lautan Timur [Teluk Meksiko]. Cortes mendapati dirinya, tak jauh berbeda dengan Quetzalcoatl, dewa atau ratu adil yang dinujumkan: bertubuh tinggi besar, berkulit putih dan berjanggut tebal. Setelah memoles mana yang kurang, Cortes, dengan keyakinan seorang dewa, datang menemui Montezuma yang sedang dikelilingi rakyat. Montezuma II menggeletar, lalu menyerah karena merasa tak mungkin melawan dewa yang dinanti.

Cortes dengan “pengetahuan kebudayaan” itu tidak hanya mengalahkan Montezuma, menguasai Aztec, tapi juga menambah penganut Kristiani, karena banyak warga Aztec berpindah keyakinan, karena menganggap sang dewa mereka telah berpindah agama, menjadi seorang Kristiani. Kemampuan Hernando Cortes ini pula yang kemudian mengilhami seorang tokoh Spanyol yang lain Francisco Fizarro, pada tahun 1531, berbekal 177 prajurit dan 62 kuda, mendaki pegunungan Andes [Peru], menaklukkan Cajamarca, ibukota Inca yang berpenduduk 6.000.000 [enam juta] orang, dan menundukkan sang raja, Atahualpa, yang dikeliligi 14.000 [empat belas ribu] tentara.

Yang dekat di jantung kita, ada C. Snouck Hurgronje. Ketika sadar bahwa Belanda tidak berhasil memenangkan Perang Aceh dengan kekuatan senjata, maka sebagai penasehat pemerintah Belanda untuk daerah koloni, Snouck Hurgronje, putar haluan. Dengan pengetahuannya yang “sempurna” tentang agama dan kebudayaan Aceh, Ia mulai menggarap proyek penaklukan melalui sisi spiritual dan budaya. Bahkan Ia berganti nama menjadi H. Abdul Ghaffar. Hasilnya luar biasa, Belanda berhasil menaklukkan Aceh dan Snouck Hurgronje pun menjadi pahlawan.

Begitulah, pemahaman tentang kebudayaan merupakan sebuah sumber kekuatan yang tiada taranya, bagi sebuah komunitas, negeri, atau bangsa, baik untuk mempertahankan diri, maupun untuk dijadikan senjata dalam menghadapi dan menguasai kekuatan lain. Kebudayaan membuat manusia kenal diri, dan manusia yang “kenal diri” atau “sadar diri” akan bergerak menjadi manusia yang “yakin diri”, dan manusia yang yakin diri berpotensi menjadi sangat kuat dalam menghadapi sesuatu yang di luar dirinya. Kata Raja Ali Haji, orang yang kenal dan sadar diri, bahkan bisa “menaklukkan” Tuhan yang bahri.

Kita sejak lama telah menjadi objek sebuah komunitas yang kenal dan sadar diri ini, menjadi objek dari komunitas yang memiliki pemahaman tentang kebudayaan kita secara kuat. Jepang, Cina, dan Korea, menguasai kita karena pemahaman mereka yang baik tentang perilaku dan sikap kebudayaan kita. Maka bertimbun-timbunlah masuk segala barang elektronik murah meriah dan tak berkualitas, karena mereka tahu dengan persis, bahwa kita ingin “serba punya” dalam “serba tak ada”. Mereka paham “budaya kita” hari ini, dan mereka berhasil menjadikan kita sasaran dari pemahaman kita sendiri.

Pada dunia hari ini, yang sudah menjadikan kebudayaan sebagai laman pertarungan untuk saling menguasai, seeloknya kita semua kembali melakukan penguatan kebudayaan secara benar, sehingga pada diri kita ada pula kekuatan untuk menghadang [jika tidak mungkin menaklukkan] kekuatan lain. Hanya saja, penguatan itu perlu dilakukan pada titik yang paling pati, pada titik nilai, dan bukan pada sisi gemerlapnya.

Kita [Riau] sudah menabalkan niat untuk menjadi sumbu kebudayaan, maka perlu dibuat langkah-langkah strategis agar gerakan ke arah menjadi sumbu itu tidak menjelma menjadi sumbu yang artifisial, hanya membuat tugu-tugu, hanya menjadi tempat pertemuan-pertemuan yang menggerus kocek daerah dan tak jelas out put-nya, atau hanya terjebak dalam arus besar, atau mimpi budaya orang lain. Sumbu yang ingin kita bentuk adalah sumbu, yang dapat menjadi tempat menyalakan api pencerahan, yang dapat menerangi diri sendiri, serta dapat pula mengheret dan menenggelamkan orang dalam cahaya api dari sumbu yang kita nyalakan.

Pembangunan dan penguatan budaya, juga memerlukan sumberdaya atau manusia kebudayaan [pemimpin, seniman, budayawan] yang berhati besi, bersemangat kuat dan berjiwa sasa, yang selalu memandang tindakan kebudayaan [seni] sebagai bagian dari ikhtiar kemuliaan dan kemaslahatan bersama. Tapi dalam konteks negeri ini, kebudayaan sering dijadikan sebagai sub-ordinat dari “hajat-hajat lain” yang siap mencengkeram di belakangnya. Kebudayaan [seni] dimainkan dalam bingkai-bingkai politik, ekonomi, dan nafsu-nafsi lain yang berada di luar perisa kebudayaan, sehingga gelegar lebih penting dari isi, sehingga kilat lebih menakutkan dari petirnya sendiri.

Yang banyak muncul saat ini, tindakan kebudayaan justru lebih banyak dilakukan sosok yang sedang menderita self esteem, manusia yang berada dalam ketidakmatangan emosional. Menganggap dirinya paling pintar, paling mumpuni, paling hebat, paling internasional, paling dunia dan paling akhirat. Lalu muncul pula sekelompok Narkissos [Narcissus] yang menganggap dunia hanya segayung air, dan hanya dirinyalah yang ada di dalam segala pantulan.

Meski mengaku sebagai negeri yang menjunjung kemuliaan budaya dalam semua aspek hidup [politik, ekonomi, dan sistim sosial], dan bahkan sempat bermimpi menjadikan negeri sebagai sumbu kebudayaan serantau, tetap tidak ada tindakan kebudayaan yang komprehensif. Tidak ada pendemaman kemuliaan budaya lewat pendidikan atau sekolah-sekolah, tidak ada penguatan terhadap sentra atau sumbu, atau meminjam istilah kelautan, tidak ada penguatan “terumbu” kebudayaan yang tersebar di sekotah negeri dan kampung.

Kebudayaan [seni], selama ini hanya dijulang atau didekati dengan semangat atau ikhtiar “cecah burung”, sekali hinggap sekali pergi, sekali bertenggek sekali ranting patah [ sekali sarang dibuat, sekalian tahinya tinggal, hehe]. Inilah yang kita lakoni terus-menerus, dan walhasil, kita hanya memperoleh gegap, dan setelah itu senyap, dan setelah itu sunyi, dan setelah itu setengah mati.

Cara pandang dan tindakan kebudayaan yang serba kulit, serba luar, atau serba “cecah burung” ini, akhirnya mengheret gerakan kebudayaan ke arah keramaian jasadi semata, hanya menciptakan sebuah hiruk yang tak jelas hulu dan gelap pula hilirnya, dan justru secara perlahan membuat kita kehilangan nilai luhurnya dari waktu ke waktu. Kebudayaan akhirnya terperangkap dalam jargon-jargon dan skala-skala semu, seperti “nasional” atau “internasional”. Padahal bukan itu yang diperlukan dari serangkaian tindakan budaya, melainkan sebuah kemuliaan kolektif, dan kemaslahatan yang terus bergerak memayungi sebuah komunitas atau negeri sepanjang perjalanan zaman.

Untung saja semangat kebudayaan [seni] ini masih terselamatkan oleh seniman-seniman, segelintir tokoh-tokoh negeri, atau institusi seni/budaya, yang tak pernah jera dan jerih menapaki pematang-pematang akalbudi, yang selalu setia memainkan semangat kebudayaan dalam ikhtiar kebudayaan  itu sendiri. Kehadiran tokoh-tokoh budaya yang tunak tersebut, tetap membuat gerakan kebudayaan berdenyar. Begitu pula kehadiran institusi pendidikan seni, seperti AKMR dan institusi lainnya, terus menjadi sitawar sidingin, masih menjadi harapan bagi penguatan kebudayaan di Riau.

Kita harus ke rumah  kebudayaan yang pati, harus terus melakukan penguatan baik lewat dunia pendidikan, lewat kajian-kajian yang dapat diimplementasikan dalam kehidupan nyata, lewat peneguhan sentra-sentra kebudayaan, dan seterusnya. Kita harus memilih, apakah menjadikan kebudayaan kita sebagai pedang yang tebasannya tak terhalang oleh angin, atau membiarkan diri kita, komunitas, dan negeri, menjadi bagian dari rancangan, atau menjadi “rencana sasaran” kekuatan kebudayaan orang lain. Semua terserah kita.***