ANAK TEMPATAN KERJA, MASYARAKAT SEJAHTERA

$rows[judul] Keterangan Gambar : Rahmad Nuryadi Putra

Oleh : RAHMAD NURYADI PUTRA

(Salah Satu Pendiri Atan Limpung Kabupaten Bengkalis)


Berawal dari nama Aliansi Anak Tempatan Peduli Kampung selanjutnya disingkat Atan Limpung yang mengedepan istilah Anak Tempatan. Suatu kemestian untuk menempatkan anak Tempatan untuk bisa berkonstribusi baik secara langsung atau tidak langsung dimana pun berada. Bak pribahasa "dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung". Pepatah ini mengingatkan kepada kita semua bahwa kita harus menghormati atau mengikuti adat istiadat di tempat tinggal kita. Pesan ini disampaikan kepada khususnya para perantau.


Perantau itu adalah orang yang melakukan perjalanan pindah dari tempat kelahirannya ke tempat tujuan atau wilayah yang ditempati. Itulah pesan orang-orang tua kita agar bisa beradaptasi dengan wilayah tempat tinggal tentu dengan cara merangkul bukan memukul, mempererat bukan menghujat dan mengakomodir bukan mengusir. Sebagai anak tempatan tentu mengetahui betul kondisi wilayah yang ditinggali mulai dari urusan sosial, budaya hingga ekonomi. Sebagai anak tempatan urusan sosial dan budaya pasti sudah mendarah daging dalam kehidupan sehari-hari. Adat istiadat apalagi agama adalah tunjuk ajar dalam berkomunikasi dan berhubungan. Sementara bicara ekonomi adalah bicara kaya dan miskin, hak dan kewajiban bahkan memperoleh kesempatan dan tertutupnya pintu kesempatan.


Kunjung kita temui kesenjangan itu terjadi dimana-mana terutama soal kaya dan miskin. Maka yang kaya bertambah kaya, sementara miskin makin terhimpit oleh prilaku yang mengakibatkan kesenjangan itu. Apalagi kekayaan itu dikuasai oleh bukan anak Tempatan, betapa sadisnya kesenjangan itu terjadi sudah mengeruk milyaran kubik hasil alam dan triliyunan rupiah hasil produksi diambil di tanah Datuk Laksamana berkuasa. Bak pepatah "ayam mati dilumbung padi" seseorang yang sengsara dalam keadaan serba kecukupan.

Kunjung kita temui tidak adanya keseimbangan terutama hak dan kewajiban. Sebagai anak tempatan punya hak untuk berkonstribusi dimana ia dilahirkan dan berkewajiban untuk merangkul anak Tempatan siapapun yang memiliki titah dan kekuasaan. Apabila hak dan kewajiban itu selaras dilakukan maka tidak ada yang hina dalam kita menjalinkan hubungan baik sebagai anak tempatan apalagi orang luar berada di wilayah kita.


Kunjung kita temui soal kesempatan kerja tertutup bagi anak tempatan. Sebagai negara yang berdasarkan hukum, hukum itu melindungi semua warga negara tanpa ada kecualinya. Mengacu pada UU No. 13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan. Setiap instansi, lembaga, koorporasi dan bahkan perguruan tinggi wajib mewujudkan pemerataan kesempatan kerja dan penyediaan tenaga kerja untuk meningkatkan kesejahteraan tenaga kerja dan keluarganya. Turunan paling dasar dari hierarki perundang-undangan Pemerintah Kabupaten Bengkalis adalah Peraturan Daerah Nomor 04 Tahun 2004 bahwa "setiap koorporasi wajib mengusahakan dan mengupayakan secara maksimal agar lowongan pekerjaan yang terbuka yang diisi oleh tenaga kerja lokal baik yang terampil maupun yang tidak terampil". Amanat konstitusi ini membuka ruang bagi anak tempatan dimana pun berada untuk bisa berkonstribusi pada koorporasi yang berada di wilayah yang ditempatinya.


Hal ini selaras dengan misi Bupati Bengkalis Ibu Kasmarni, M.MP saat kunjungan ke Dinas Ketenagakerjaan Kabupaten Bengkalis beberapa waktu lalu. Misi semacam ini merupakan angin segar bagi anak Tempatan untuk berkonstribusi secara maksimal dan pihak koorporasi membuka seluas-luasnya kesempatan kerja bagi tenaga kerja lokal.


Tulisan ini bak peribahasa "gayung bersambut". Apalagi yang diharapkan orang nomor 1 di Kabupaten Bengkalis atas nama Pemerintah Daerah selaras dengan realita dilapangan yang dihadapi oleh anak Tempatan ketika berhadapan dengan pihak koorporasi.

Anda sopan kami segan, salam santun.

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)