Keterangan Gambar : Foto bersama
BUKIT BATU – Gemuruh suporter dan semarak atribut kebanggaan tim memenuhi kawasan Lapangan Bapor Pertamina Sungai Pakning, Senin (24/8/2026). Sebanyak 32 tim siap beradu strategi dan skill dalam Open Turnamen Sepakbola Camat Bukit Batu III Tahun 2026, sebuah pesta olahraga yang dinanti-nantikan masyarakat Riau pesisir.

Pembukaan berlangsung khidmat namun meriah. Prosesi pelepasan burung yang dilakukan langsung oleh Camat Bukit Batu, Acil Esyno, bersama Sekretaris Camat, jajaran kepala desa, serta panitia, menjadi simbol bahwa kompetisi resmi dimulai—sebuah harapan agar semangat para pemain membumbung tinggi ke angkasa.

Camat Acil Esyno dalam sambutannya menekankan bahwa turnamen ini bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan program strategis pembinaan olahraga di tingkat akar rumput. "Kami ingin menjadikan Bukit Batu sebagai lumbung pesepakbola berbakat. Kompetisi lokal adalah panggung pertama mereka sebelum menuju level provinsi atau bahkan nasional," tegasnya.

Ia menambahkan, kehadiran turnamen antar-kampung (tarkam) ini membuka akses bagi pemain-pemain muda yang selama ini kurang terekspos oleh pencari bakat. "Bagi sebagian pemain, ini bukan hanya hobi. Ini adalah jalan hidup dan sumber nafkah yang halal. Dengan bermain sepakbola, mereka bisa menggenggam masa depan," imbuh Acil.
Tokoh Masyarakat Beri Sorotan Positif
Di sela-sela kegembiraan turnamen, salah satu tokoh masyarakat sekaligus penggiat sepakbola veteran Bukit Batu, Ujang turut memberikan pandangannya. Pria yang akrab disapa Ujang ini mengaku sangat antusias dengan antusiasme peserta dan penonton tahun ini.
"Sepakbola tarkam adalah denyut nadi olahraga kita di daerah. Saya melihat kualitas permainan tahun ini meningkat drastis dibanding tahun lalu. Ada beberapa pemain muda dengan postur dan kecepatan mumpuni yang sayang jika tidak dibina lebih lanjut," ujar Ujang kepada awak media.
Ujang yang juga merupakan mantan pemain lokal era 90-an itu, berharap turnamen ini menjadi pintu masuk bagi para pemain untuk direkrut oleh klub-klub profesional di Riau, seperti PSPS Pekanbaru atau tim kebanggaan lainnya. "Saya berharap ada mata-mata klub yang melirik. Namun, yang terpenting, junjung tinggi sportivitas. Kalah menang itu biasa, yang utama adalah silaturahmi dan pengalaman," tambahnya.
Ia juga mengingatkan para pemain agar memanfaatkan momentum ini dengan serius, karena turnamen bergengsi seperti ini tidak selalu datang setiap tahun dengan fasilitas lapangan yang sudah cukup baik seperti di Bapor Pertamina saat ini.
Dampak Ekonomi Mengalir Deras
Tak hanya panasnya persaingan di lapangan, gelaran ini juga menyulut panasnya roda ekonomi masyarakat. Ratusan pedagang kaki lima memadati area sekitar lapangan, menjajakan berbagai kuliner, mulai dari minuman dingin, makanan ringan, hingga jajanan berat khas Melayu.
Camat Acil menegaskan bahwa aspek ekonomi memang menjadi salah satu sasaran utama kegiatan ini. "Berkat turnamen ini, uang berputar. Para pedagang kebanjiran pembeli, penginapan mulai penuh, dan transportasi publik ikut bergerak. Kami ingin masyarakat tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga merasakan langsung berkah rupiah dari gelaran ini," jelasnya.
Pemerintah kecamatan pun telah berkoordinasi dengan aparat desa untuk memastikan lapak-lapak pedagang tetap tertata rapi sehingga tidak mengganggu arus lalu lintas dan kenyamanan umum. Dengan banyaknya penonton yang datang dari luar Kecamatan Bukit Batu, bahkan dari kabupaten tetangga, perputaran uang di sekitar arena diprediksi mencapai angka yang cukup signifikan selama turnamen berlangsung.
Dengan 32 tim yang dibagi dalam beberapa grup, pertandingan akan berlangsung selama beberapa pekan ke depan. Sepakbola telah menyatukan masyarakat, membangkitkan ekonomi, dan membuka asa bagi generasi muda Bukit Batu untuk menggapai mimpi setinggi langit.
Penulis : Andhika
Editor : Erwin
Tulis Komentar