Keterangan Gambar : Di Tengah Genangan, Hadir Sosok Pengayom
Laporan: Andhika Siak Kecil
SIAK KECIL- Suara mesin perahu kempang memecah kesunyian Sungai Siak Kecil yang airnya mulai berwarna kecoklatan. Di atasnya, tampak seorang pria berpakaian dinas lengkap, hanya dibalut jaket hujan lusuh dan sepatu boots penuh lumpur. Ia membawa dua karung beras dan beberapa dus mi instan di pangkuannya. Sosok itu adalah Iptu Dr. Eko Wahyu, S.H., M.H., Kapolsek Siak Kecil, yang sejak banjir merendam dua desa di wilayah tugasnya, memilih untuk tak tinggal diam di belakang meja.
Banjir yang melanda Desa Muara Dua dan Bandar Jaya sejak April hingga Akhir Mei 2025 merendam lebih dari 112 kepala keluarga. Ketinggian air bervariasi antara 20 hingga 45 sentimeter, menutup akses jalan utama dan merendam puluhan rumah hingga tak layak dihuni. Namun, dalam keterisolasian itu, langkah Eko tak pernah surut.
“Kalau warga tidak bisa datang ke bantuan, maka bantuannya yang harus datang ke warga,” ujarnya, sambil tersenyum saat ditemui di posko pengungsian Bandar Jaya.
Jalan Rusak, Sungai Tersumbat, Tapi Nurani Tak Pernah Mandek
Medan Siak Kecil dikenal sulit :
puluhan kilometer jalan berlubang dan berlumpur menjadi tantangan harian. Sungai-sungai yang menjadi urat nadi pergerakan warga pun tersumbat tanaman bakung dan kasau. Di tengah semua itu, Eko menjadi garda terdepan. Ia memimpin langsung pendistribusian bantuan, mendirikan tenda darurat untuk pengungsi, hingga menjaga keamanan ternak warga yang mulai resah oleh hadirnya ular dan babi hutan yang ikut terusir dari habitatnya.
Bukan sekali dua kali ia harus menginap di tenda pengungsi. Di sana, ia tidur beralaskan terpal, berbagi nasi bungkus dengan anak-anak, bahkan memeluk mereka yang ketakutan di malam hari saat hujan kembali mengguyur.
“Ilmu saya mungkin di bidang hukum, tapi hati saya tertambat di sini, di antara warga yang butuh kehadiran nyata. Kadang tugas bukan sekadar mengutip pasal, tapi menjahit harapan,” ucap Iptu Dr. Eko ketika berbincang dengan media ini, Rabu (11/06/2025) di Lubuk Muda.
Kolaborasi Nurani : Ketika Bantuan Tak Sekadar Materi
Apa yang dilakukan Eko bukan sekadar upaya individu. Di balik keberhasilannya menggerakkan roda bantuan, terdapat jalinan kolaborasi antar sektor yang dipintal dengan sabar dan penuh empati. Ia mendekati pihak-pihak strategis bukan sebagai atasan, tapi sebagai saudara seperjuangan.
“Saya telepon satu per satu, kadang malam hari. Saya jelaskan kondisi di lapangan, dan alhamdulillah, semua tergerak,” katanya.
Pertamina Sungai Pakning merespons cepat dengan mengirim beras dan minyak goreng. Koperasi Bukit Batu Darul Makmur ikut menyuplai puluhan paket sembako. Puskesmas Lubuk Muda pun tak tinggal diam: mereka menerjunkan tim medis dan logistik obat-obatan dan juga sembako. Warga dari desa tetangga, Lubuk Muda, ramai-ramai menyumbangkan sembako, pakaian layak pakai yang langsung disortir oleh personel Polsek.
Namun bukan hanya barang yang tiba. Yang lebih penting bagi Eko adalah kepercayaan. “Bantuan itu bukan hanya logistik. Yang paling mahal itu rasa percaya masyarakat, bahwa negara hadir meski lewat satu kempang kecil,” katanya.
Kata Warga: ‘Kapolsek Merangkap Camat’
Sudarno Warga Desa Bandar Jaya tak ragu menjuluki Eko sebagai “Kapolsek yang merangkap camat”. Gelar itu bukan tanpa alasan. Eko tak hanya bertugas menjaga keamanan, tapi juga terlibat dalam manajemen logistik, pendataan pengungsi, hingga distribusi makanan balita dan lansia.
“Kalau kami sedang sibuk memikirkan bagaimana dapur umum tetap nyala, beliau datang dengan solar. Kalau kami bingung anak-anak tidak sekolah, beliau datangkan buku gambar dan alat tulis,” kata Sunyoto, Penjabat Kepala Desa Bandar Jaya, menambahkan.
Warga Dusun Jadi Mulyo bahkan menyebutnya sebagai “bapak asuh”. Mulyono, seorang petani jagung yang rumahnya terendam hingga ke dalam kamar, tak kuasa membendung air mata saat berbicara. “Beliau selalu datang, tidak pernah absen. Bahkan malam-malam pun tetap keliling tenda. Kami tak mau kehilangan beliau, jangan sampai pindah tugas,” bisiknya lirih saat menggenggam tangan Eko.
Wartawan, Polisi, dan Masyarakat: Tiga Pilar Saling Menguatkan
Dalam aksi kemanusiaan ini, Eko membuktikan bahwa kerja kolaboratif tak bisa ditawar. Ia membentuk simpul komunikasi yang erat dengan media lokal, terutama melalui Forum Wartawan Bukit Batu–Siak Kecil (FWBS). Mereka rutin mengabarkan perkembangan banjir, membuka donasi publik, dan bahkan ikut serta menyebarkan bantuan ke lokasi terdalam.
“Polisi, wartawan, dan masyarakat adalah satu mata rantai. Jika satu putus, kerja kemanusiaan tak akan selesai,” ujar Eko, yang kerap menulis pemikirannya di sela kesibukan dinas.
Darmayanto, Ketua FWBS, menyebut Eko sebagai “doktor yang tahu cara bicara dengan lumpur”. “Dia tak hanya paham pasal hukum, tapi juga tahu cara menyapa warga yang kehilangan rumah,” ujarnya.
Harapan yang Mengalir Bersama Sungai
Saat genangan mulai surut dan sebagian warga bisa kembali ke rumah, Eko tak serta-merta menarik mundur timnya. Ia memastikan tenda darurat tetap aktif hingga bantuan lanjutan tiba. Di posko Bandar Jaya, seorang anak kecil berlari ke arahnya sambil memeluk dus susu. Wajahnya cerah, matanya berbinar. “Terima kasih, Pak Polisi,” katanya.
Eko hanya tersenyum. “Tugas saya bukan hanya memastikan hukum tegak, tapi juga memastikan tidak ada anak yang tidur kelaparan, dan setiap warga punya alasan untuk percaya pada hari esok.”
Banjir akan surut, tapi teladan Iptu Eko mengalir abadi seperti Sungai Siak Kecil : menghidupi, menguatkan, dan menyatukan hati yang terpisah genangan.
Tulis Komentar