Ukiran Pucuk Rebung Terbalik di Tugu Tanjak, LAMR Turun Tangan: Ini Soal Filosofi Hidup Orang Melayu

$rows[judul] Keterangan Gambar : Pengurus LAMR Kabupaten Bengkalis tinjau tugu tanjak di Selatbaru

SELATBARU – Sebuah kegaduhan kecil menyelimuti masyarakat Bengkalis. Tugu Tanjak yang baru berdiri megah di kawasan Pantai Wisata Desa Selatbaru, Kecamatan Bantan, mendadak menuai sorotan. Bukan karena kemegahannya, melainkan karena satu detail kecil yang ternyata memiliki makna besar: ukiran "pucuk rebung" yang terpasang terbalik.


Polemik ini sontak menggerakkan para pemangku adat. Tak ingin hanya mendengar dari kejauhan, pengurus Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) Kabupaten Bengkalis langsung membentuk tim investigasi. Pada hari Senin (13/4/26), mereka turun langsung ke lokasi proyek, menyusuri pasir pantai demi memastikan kebenaran di lapangan.

Tim yang tampak serius namun tetap santun itu terdiri dari Sekum DPH LAMR, Datuk Abdul Vattah; Sekum MKA, Datuk Darmansyah; serta para Timbalan Ketua Umum seperti Datuk H. Muchlizar, Datuk Bukhari Rasyid, Datuk Dodi Saputra, dan Datuk Ariansyah Putra. Wajah-wajah mereka menunjukkan keprihatinan yang mendalam.

Hasil pantauan di lokasi mengonfirmasi apa yang menjadi keresahan warga. Ya, ukiran pucuk rebung itu memang terbalik. Padahal, menurut pakem adat Melayu, wajah ornamen tersebut haruslah menghadap ke atas.

Dengan suara yang penuh makna, Datuk Abdul Vattah menjelaskan, "Menurut kaidah, ukiran Pucuk Rebung seharusnya menghadap ke atas. Ada filosofinya. Ia melambangkan pertumbuhan, kekuatan, dan harapan untuk terus berkembang dalam kehidupan. Jika terbalik, makna itu bisa hilang."

Sekum MKA, Datuk Darmansyah, menimpali dengan nada yang tak kalah tegas namun tetap bijaksana. Menurutnya, kesalahan ini terjadi bukan karena niat buruk, melainkan lemahnya koordinasi. "Proyek ini seharusnya berkonsultasi dulu dengan LAMR sebelum memulai pekerjaan. Kami sangat terbuka, dan di LAMR ada banyak tokoh yang paham betul soal kaidah ukiran Melayu. Sayangnya, pintu komunikasi itu tak sempat diketuk," ujarnya.

Pandangan serupa juga diaminkan oleh Datuk H. Muchlizar dan Datuk Bukhari Rasyid. Keduanya menekankan bahwa setiap ukiran Melayu adalah warisan luhur yang harus ditempatkan sesuai alur patut yang diajarkan para pendahulu. "Jangan sampai karena ketidaktahuan, kita kehilangan pesan moral dari sebuah ornamen," pesan mereka.

Sementara itu, Ketua Umum MKA, Datuk Seri H. Ilham Noer, yang dihubungi secara terpisah, memastikan bahwa LAMR tidak akan tinggal diam. Pihaknya segera berkoordinasi dengan dinas terkait untuk menyampaikan pandangan adat.

"Kami akan memberikan saran langkah-langkah perbaikan. Jika terjadi kesalahan, maka harus diperbaiki. Bukan untuk menyalahkan, tapi demi menjaga martabat budaya Melayu yang kita cintai bersama," tegasnya.

Kisah Tugu Tanjak ini menjadi pengingat bahwa di setiap goresan ukiran, terselip nyawa dan harapan leluhur. Dan ketika ada yang terbalik, bukan hanya estetika yang terganggu, tapi juga denyut filosofi yang selama ini menopang kehidupan orang Melayu.(Win)

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)