Maestro Layang Tradisional Riau Amronsyah Bawa Warisan Melayu ke Panggung UNESCODari Dumai Menembus Dunia

$rows[judul] Keterangan Gambar : Datok Amronsyah


KUALA LUMPUR - Nama Riau kembali berkibar di panggung budaya internasional. Kali ini bukan melalui kemegahan panggung pertunjukan, melainkan melalui sebuah permainan rakyat yang selama puluhan tahun tumbuh dan hidup di tengah masyarakat Melayu: layang-layang tradisional.


Adalah Datok Amronsyah, Maestro Layang Tradisional Riau sekaligus Ketua Sanggar Layang-layang Purnama, yang mendapat kesempatan hadir dalam kegiatan “Workshop on the Joint Nomination of Kite for the Inscription on the Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity (UNESCO)” yang berlangsung di AnCasa Hotel, Kuala Lumpur, Malaysia, 3–6 September 2026.


Kehadiran Datok Amronsyah dalam forum tersebut menjadi momentum penting bagi pelestarian permainan rakyat tradisional. Sebab, layang-layang tidak sekadar permainan untuk mengisi waktu luang, tetapi menyimpan pengetahuan, keterampilan, kreativitas, nilai sosial dan identitas budaya masyarakat yang diwariskan lintas generasi.


Dengan karya-karya layang tradisional yang dikembangkan dan dilestarikannya selama puluhan tahun, Amronsyah menjadi salah satu sosok penting dalam menjaga agar tradisi tersebut tidak hilang ditelan perubahan zaman.

Jejak panjang itu bukan tanpa pengakuan. Pemerintah Kota Dumai sebelumnya mencatat Amronsyah sebagai maestro layang-layang dan tokoh budaya bidang permainan rakyat tradisional Melayu Riau. Bahkan Layang-Layang Kuaw Raja Tebuk Isi telah mendapatkan penetapan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia, serta memiliki sertifikat Kekayaan Intelektual Komunal kategori Ekspresi Budaya Tradisional.

50 Tahun Menjaga Tradisi


Dedikasi Datok Amronsyah terhadap dunia layang-layang bukanlah perjalanan singkat. Dalam pemberitaan Pemko Dumai, ia disebut telah menggeluti dunia perlayang-layangan selama sekitar 50 tahun, khususnya mengembangkan layang-layang tradisional.

Bagi masyarakat Melayu, layang-layang memiliki cerita panjang. Dahulu, permainan tersebut dimainkan masyarakat setelah masa panen padi atau ketika musim barat membuat masyarakat sulit melaut.


Layang-layang juga pernah menjadi bagian dari aktivitas masyarakat ketika tanaman padi mulai menguning, antara lain untuk membantu mengusir burung yang mengganggu tanaman.

Dari tradisi sederhana itulah kemudian lahir berbagai bentuk, motif dan kreativitas layang-layang Melayu yang memiliki karakter khas.

Amronsyah bersama komunitasnya berusaha menjaga pengetahuan tersebut agar tidak berhenti pada satu generasi.

Tangannya tidak sekadar menerbangkan layang-layang. Ia sedang menerbangkan ingatan kolektif sebuah kebudayaan.

Dari Riau untuk Dunia

Forum di Kuala Lumpur menjadi semakin bermakna karena pembahasannya berkaitan dengan upaya joint nomination atau nominasi bersama untuk masuk dalam Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity UNESCO.

Bagi Riau, keikutsertaan pelaku budaya seperti Amronsyah menunjukkan bahwa tradisi lokal memiliki peluang untuk mendapatkan perhatian lebih luas ketika dirawat, didokumentasikan dan diwariskan secara konsisten.

Layang-layang tradisional Riau pun tidak lagi hanya berbicara tentang bagaimana sebuah layang dapat terbang tinggi mengikuti arah angin.

Di baliknya terdapat pengetahuan tentang bahan, bentuk, keseimbangan, teknik pembuatan, motif, seni hias, filosofi, hingga hubungan manusia dengan alam dan lingkungan sosialnya.

Dan di tangan para pelestari seperti Amronsyah, pengetahuan tersebut terus hidup.

Kacip Tembaga: Sebuah Kebanggaan untuk Riau

Kabar membanggakan tersebut turut mendapat perhatian dari Rumah Budaya Kacip Tembaga Sungai Pakning.

Datok Amronsyah diketahui juga dipercaya sebagai salah satu Dewan Pakar Rumah Budaya Kacip Tembaga Sungai Pakning, selain berbagai predikat dan kiprahnya dalam pelestarian seni budaya Melayu Riau.

Jajaran Pengurus Rumah Budaya Kacip Tembaga Sungai Pakning, yang diketuai Datuk Erwin Syah Putra, didampingi Sekretaris Datok Supriandi Alias Dedek Minah, Bendahara Datok Wawan Irnawan, Timbalan I Alfero, Timbalan II Andhika, sekaligus Dewan Pendiri Zalfandri Zainal, Dewan Penasehat Datok Ridho Fatwandi, Datok Ibenk Arrekan, Datok Epan Arrahman menyampaikan ucapan selamat dan apresiasi kepada Amronsyah atas keikutsertaannya dalam forum budaya internasional tersebut.

“Kami dari Rumah Budaya Kacip Tembaga Sungai Pakning, bersama seluruh pengurus dan Dewan Penasehat, menyampaikan tahniah dan ucapan selamat kepada Datuk Amronsyah atas kiprah dan dedikasinya membawa Layang Tradisional Riau ke forum internasional di Kuala Lumpur.” tutur Ridho Fatwandi Dewan Penasehat Kacip Tembaga yang terus membersamai perjuangan Datok Amronsyah.


Menurut Ridho, perjuangan Amronsyah bukan hanya perjuangan seorang seniman atau pelaku budaya, tetapi merupakan bagian dari perjuangan masyarakat Riau dalam menjaga identitas dan warisan budaya Melayu.

“Kami bangga karena budaya yang selama ini hidup di tengah masyarakat Riau kini diperkenalkan dalam ruang yang lebih luas. Semoga ikhtiar ini menjadi jalan bagi Layang Tradisional Riau untuk semakin dikenal dunia dan suatu hari benar-benar tercatat sebagai warisan budaya yang membanggakan Indonesia.” katanya.


Kacip Tembaga juga memberikan penghargaan khusus kepada orang-orang yang selama ini berada di belakang perjuangan Amronsyah.

Termasuk Atuk Yose, yang disebut telah banyak membantu perjalanan Amronsyah dalam mengembangkan dan melestarikan budaya layang-layang tradisional.

Namun kali ini, ucapan yang disampaikan bukan hanya ucapan selamat.

Ada pula doa.

“Al-Fatihah untuk Atuk Yose. Semoga segala amal, pengorbanan dan kebaikan beliau diterima Allah Subhanahu wa Ta'ala dan ditempatkan di tempat yang layak di sisi-Nya. Aamiin.” tutur Ridho.


Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada seluruh pihak dan tim yang selama ini membantu perjuangan Amronsyah.

Harapan Warisan yang Tak Lekang Zaman

Bagi Kacip Tembaga, perjalanan Amronsyah di Kuala Lumpur menjadi pengingat bahwa pelestarian budaya tidak cukup hanya dengan menyimpan benda-benda budaya.

Warisan budaya harus dihidupkan, dimainkan, diajarkan, dibuat, dipertunjukkan dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Sebab ketika seorang maestro berhenti berkarya, yang dikhawatirkan bukan hanya hilangnya sebuah karya, tetapi juga hilangnya pengetahuan yang selama puluhan tahun hidup melalui tangan dan pengalaman manusia.

Karena itu, perjalanan Amronsyah di Kuala Lumpur diharapkan menjadi energi baru bagi generasi muda Riau untuk mengenal kembali permainan tradisional daerahnya.

Layang-layang mungkin terlihat sederhana.

Namun ketika ia terbang tinggi di langit, sesungguhnya ada sejarah, kreativitas dan identitas budaya yang ikut diterbangkan bersamanya.

Dari tanah Melayu Riau, layang-layang tradisional kini mencoba menembus langit dunia.

Dan dari Kuala Lumpur, sebuah harapan sedang dititipkan:

agar warisan budaya Melayu Riau tidak hanya dikenang oleh generasi hari ini, tetapi terus hidup dan dikenal oleh dunia serta diwariskan kepada generasi yang akan datang.

“Sukses selalu Maestro Layang Tradisional Riau, Datuk Amronsyah. Teruslah terbangkan budaya Melayu Riau setinggi-tingginya.”


Laporan : Andhika Bugis

Editor      : Erwin

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)