Ilustrasi trenggiling yang menjadi objek perdagangan gelap internasional

Kim dan Aim, Dua Nama Toke Besar di Sungai Pakning Ini Disebut-sebut pada Sidang Kasus Trenggiling

Laporan : Tim RiauBerdaulat.com

 

PELALAWAN - Sidang kasus perdagangan hewan dilindungi Undang - Undang jenis Trenggiling dengan terdakwa oknum anggota Polres Indragiri Hilir (Inhil) M Ali Hanafia di Pengadilan Negeri (PN) Pelalawan pekan lalu menguak berbagai fakta baru.

 

Selain menguak aksi, perdagangan Trenggiling ini sudah digeluti oleh terdakwa semenjak tahun 2014. Kurun waktu empat tahun tersebut sudah 2 ton Trenggiling yang dijual terdakwa kepada toke penampung di Sungai Pakning Kabupaten Bengkalis.

 

Menariknya, pada persidangan itu dua nama toke besar dari Sungai Pakning disebut - sebut. Keduanya, adalah Kim dan Aim. Kedua orang ini merupakan cukong besar menampung Trenggiling dari terdakwa untuk dikirim ke luar negeri.

 

Diberitakan sebelumnya, Sidang lanjutan kasus perdagangan Trenggiling dengan terdakwa oknum anggota polisi dari kesatuan Polres Indragiri Hilir, M Ali Hanafia terungkap fakta baru di Pengadilan Negeri (PN) Pelalawan, Selasa (22/5/18).

 

Pada persidangan tersebut, Jaksa Penutut Umum (JPU) dari Kejaksaan Negeri (Kejari) Pelalawan Hipmawan Saputra, SH, MH mendatangi dua orang saksi. Satu dari dua orang saksi tersebut merupakan adek kandung terdakwa, yakni Ali Muhammad Hanafia. Saksi ini, sudah menjadi terpidana dengan dua tahun kurungan di PN Pekanbaru atas kasus yang sama.

 

Banyak fakta terbaru yang disampaikan saksi pada persidangan ini. Misalnya, ia beterus terang perbuatan dia di 'backup' penuh oleh terdakwa. Perdagangan hewan dilindungi tersebut sudah digeluti sejak tahun 2014.

 

Didepan majelis hakim, saksi mengaku perbuatan tersebut adalah perbuatan yang melawan hukum. Untuk itu ia berinisiatif mensiasati kemungkinan terburuk dikemudian hari. Atas arahan terdakwa, saksi membuat rekening BCA dengan menggunakan nama orang lain.

 

Lagi-lagi, pembukaan rekening itu atas saran dari terdakwa, lalu diiputuskanlah, nama rekening tersebut atas nama Jafri. Jafri sendiri merupakan ipar dari terdakwa.

 

Menurut saksi, seluruh uang dari hasil perdagangan trenggiling yang digeluti sejak tahun 2014, yang dijual ke toke di Sungai Pakning itu, ditransfer dan ditimbun ke rekening BCA atas nama Jafri.

 

"Semua uang hasil penjualan dari toke, disimpan di rekening BCA ini, pak hakim," terang saksi kepada majelis hakim.

 

Sejak tahun 2014, saksi mengaku sudah menjual kurang lebih dua ton Trenggiling. Kepada toke dijual perkilo hidup-hidup Rp 350 ribu sementara untuk kulit dijual Rp 2 juta perkilo. Trenggiling ini, diperoleh dari para pengumpul diberbagai daerah, Provinsi Jambi, Sumbar dan Riau.

 

"Rata-rata keuntungan setiap penjualan Trenggiling ini, perkilo Rp 200 ribuan lah pak hakim," tandas saksi.

 

Sidang tersebut, dipimpin hakim ketua Nelson Angkat, SH, MH didamping hakim anggota Endry Eswin Oetara Suganda, SH, MH dan Ria Ayu Rosalin, SH, MH.

 

Sementara itu sejumlah narasumber yang ditemui RiauBerdaulat.com di Sungai Pakning belum ada yang mengetahui di mana keberadaan dua toke Kim dan Aim yang disebut - sebut dalam persidangan tersebut.