Indahnya Ramadan di Pakning: Ketika Tionghoa Berbagi Takjil dan Sembako, Kebersamaan Lintas Iman

$rows[judul] Keterangan Gambar : Ikatan Keluarga Tiong Hoa Sungai Pakning menyerahkan 45 Paket sembako kepada Panti Asuhan Al Fajar Desa Dompas, Jumat (13/03/2026).

SUNGAI PAKNING – Sore itu, Jalan Jendral Sudirman di Desa Sungai Selari berubah menjadi sungai kerindangan. Ratusan kendaraan melambat, puluhan tangan terulur dari jendela mobil dan jok motor. Bukan karena macet, melainkan karena deretan pemuda-pemudi berbaju merah menyala berdiri di tepi jalan, membagikan ribuan takjil gratis kepada siapa pun yang melintas.


Suasana ngabuburit di Sungai Pakning, Kecamatan Bukit Batu, Jumat (13/3/2026) sore itu terasa berbeda. Ada kehangatan yang mengalir bersama teh manis dan kurma yang dibagikan. Di balik setiap bingkisan takjil, terselip pesan damai yang tak perlu diucapkan: bahwa berbagi tidak mengenal batas keyakinan.


Mereka adalah pemuda-pemudi dari Ikatan Keluarga Tionghoa Sungai Pakning. Dengan semangat Ramadan, komunitas ini menggelar aksi sosial tahunan yang dinanti warga. Sebelum membagikan 2.500 paket takjil di pinggir jalan, mereka lebih dulu menyalurkan 45 paket sembako ke Panti Asuhan Al Fajar di Desa Dompas.


"Kami Berbagi untuk Semua, Tanpa Tanya Agama"

Steven, Ketua Panitia Pelaksana yang sibuk mengatur jalannya pembagian takjil, menyempatkan diri berbincang di sela kesibukan. Wajahnya semringah meski keringat membasahi kaus merahnya.


"Ini agenda tahunan kami, tapi euforianya tidak pernah pudar. Setiap Ramadan, hati kami selalu tergerak untuk berbagi. Kami tidak pernah membeda-bedakan penerima. Mau yang lewat ini muslim, kristen, atau apapun, yang terpenting mereka bisa berbuka dengan bahagia. Melihat senyum mereka, lelah kami terbayar lunas," ujar Steven dengan mata berbinar.

Ia menambahkan, tahun ini pihaknya sengaja menambah jumlah takjil menjadi 2.500 paket setelah melihat antusiasme warga tahun lalu. "Kami ingin semua yang melintas di jalur ini merasakan kebersamaan Ramadan," tambahnya.

"Ramadan Mengajarkan Kami Arti Toleransi"

Di tengah kerumunan warga yang antre mengambil takjil, Bon Eng, Tokoh Pemuda Tionghoa Sungai Pakning, terlihat ikut turun tangan membagikan minuman. Baju merahnya sama basahnya dengan relawan lain, tapi senyumnya tak pernah pudar.

Dengan nada lembut namun penuh semangat, Bon Eng berbagi refleksinya:

"Saya lahir dan besar di Pakning. Di sini, saya belajar bahwa perbedaan itu indah. Ketika teman-teman Muslim berpuasa, kami justru merasa terpanggil untuk membantu mereka berbuka. Ramadan mengajarkan kami arti toleransi yang sesungguhnya. Bukan sekadar menghormati, tapi ikut merasakan kebahagiaan di dalamnya. Ngabuburit di Pakning hari ini bukti bahwa kami bisa hidup rukun, saling mengasihi, tanpa mempersoalkan latar belakang." Tambahnya.

Kalimatnya mengundang anggukan dari warga yang mendengar. Suasana semakin hangat ketika seorang pengendara ojek pangkalan menerima takjil sambil mengucapkan terima kasih berkali-kali.

"Ini Harmoni yang Patut Dicontoh"

Darmayanto, Ketua Forum Wartawan Bukit Batu, Bandar Laksamana dan Siak Kecil yang kebetulan melintas, tak bisa menyembunyikan kekagumannya. Ia menghentikan sejenak kendaraannya untuk menyaksikan langsung kemeriahan acara.

"Saya sudah lama malang melintang di wilayah ini, tapi pemandangan seperti ini selalu membuat hati terenyuh. Ketika saudara-saudara kita Tionghoa dengan sukarela menyiapkan dan membagikan takjil untuk masyarakat yang berpuasa, itu bukan sekadar bagi-bagi makanan. Itu adalah simbol persaudaraan yang tulus. Sungai Pakning hari ini menunjukkan pada Indonesia bahwa kerukunan itu nyata, bukan sekadar wacana. Apresiasi setinggi-tingginya untuk Ikatan Keluarga Tionghoa Sungai Pakning yang telah menciptakan harmoni ini." Kata Darmayanto.

Pakning Berbinar di Sore Ramadan

Matahari semakin condong ke barat, tapi semangat kebersamaan di Jalan Jendral Sudirman justru meninggi. Para pemuda Tionghoa berbaju merah itu terus membagikan takjil hingga habis. Warga dari berbagai kalangan bergantian mendatangi lokasi. Ada yang sekadar mengambil takjil, ada pula yang sengaja bersalaman dan mengucapkan terima kasih.

Suasana ngabuburit yang biasanya sunyi, sore itu berubah menjadi pesta toleransi. Tawa, sapaan, dan doa-doa baik mengalir deras bersama ribuan takjil yang dibagikan.

Di ujung jalan, seorang ibu paruh baya dengan kerudung putih menerima takjil dari seorang pemuda Tionghoa. Mereka tersenyum. Tanpa bertanya agama, tanpa mempermasalahkan asal-usul. Di sore yang gerah itu, yang ada hanyalah senyum dan rasa syukur karena masih diberi kesempatan merasakan indahnya berbagi.

Sungai Pakning, Jumat sore itu, adalah potret kecil Indonesia yang damai.(Win)

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)