Oleh: Riki Sutiono, M.Pd.I (Dosen STAIN Bengkalis)
Di dalam al-Qur’an ada tiga binatang kecil diabadikan oleh Allah menjadi nama surah, yaitu al-Naml ( semut), al-‘Ankabut (laba-
laba),
dan al-Nahl (lebah). Ketiga binatang ini masing-masing memiliki
karakter dan sifat, sebagaimana digambarkan oleh al-Qur’an. Dan hal itu
patut dijadikan pelajaran oleh manusia.
Semut memiliki sifat suka menghimpun makanan sedikit demi sedikit tanpa
henti-hentinya. Konon, binatang ini dapat menghimpun makanan untuk
bertahun-tahun sedangkan usianya tidak lebih dari satu tahun.
Kesombongannya sedemikian besar sehingga ia berusaha memikul sesuatu
yang lebih besar dari badannya, meskipun sesuatu tidak itu tidak berguna
baginya.
Lain halnya dengan laba-laba, sebagaimana digambarkan dalam al-Qur’an
bahwa sarang laba-laba adalah tempat yang paling rapuh. Hal ini
memberikan gambaran bahwa di dalam masyarakat atau rumah tangga yang
keadaannya seperti laba-laba; rapuh, anggotanya saling tindih-menindih,
sikut menyikut seperti anak laba-laba yang baru lahir. Kehidupan ayah
dan ibu serta anak-anak tidak harmonis, antara pimpinan dan bawahan
saling curiga.
Berbeda dengan lebah. Lebah memiliki insting yang sangat tinggi,
Sarangnya dibuat berbentuk segi enam bukannya lima atau empat agar tidak
terjadi pemborosan dalam lokasi. Lebah mengolah makanannya dan hasil
olahannya itulah menjadi lilin dan madu yang sangat bermanfaat bagi
manusia untuk dijadikan sebagai penerang dan obat. Lebah sangat
disiplin, mengenal pembagian kerja dan segala yang tidak berguna
disingkirkan dari sarangnya. Ia tidak mengganggu yang lainnya kecuali
ada yang mengganggunya, bahkan kalaupun menyakiti (menyengat)
sengatannya dapat menjadi obat. Oleh karenanya, wajarlah kalau Nabi
Muhammad SAW mengibaratkan orang mukmin itu seperti lebah, sebagaimana
dalam sabdanya: “Perumpamaan seorang mukmin adalah seperti lebah. Ia
tidak makan kecuali yang baik, tidak menghasilkan kecuali yang baik, dan
bila berada pada suatu tempat tidak merusak”.
Dalam kehidupan kita di dunia ini, jelas ada manusia yang berbudaya
semut, yaitu suka menghimpun dan menumpuk materi atau harta tanpa ada
pemanfaatannya. Begitu juga entah berapa banyak jumlah laba-laba yang
ada disekitar kita, yaitu mereka yang tidak lagi butuh berpikir apa, di
mana, dan kapan ia makan, tetapi yang mereka pikirkan adalah siapa yang
mereka jadikan mangsa, siapa lagi yang akan ditipu, dan bagaimana cara
mengambil hak orang lain.
Demikian pula di dalam masyarakat kita terdapat beberapa manusia-manusia
lebah. Manusia lebah itu adalah mereka yang tidak boros, tidak suka
makan atau mengambil haknya orang lain, apa yang keluar dari mulutnya
bukan sesuatu yang menyakiti perasaan tetapi sesuatu yang menyejukkan
dan menyenangkan. Dan bila berada pada suatu tempat atau daerah tidak
menjadi pengacau dan penyebab kericuhan. Tetapi justru kehadirannya
sangat diharapkan dan dirindukan. Oleh karenanya, marilah kita
merenungkan dan mencontoh sifat-sifat yang dimiliki oleh lebah, sehingga
kita dapat merasakan manisnya kehidupan di dunia ini. Wallahu A’lam. (RDS)
Tulis Komentar