GEORGE ORWELL DAN ENEMY OF THE STATE

$rows[judul] Keterangan Gambar : Syaukani AlKarim

Oleh : Syaukani Al Karim

(Penulis Adalah Seniman dan Budayawan Riau, Ketua KONI Kabupaten Bengkalis, Ketua DPD PAN Kabupaten Bengkalis, Bermastautin di Bengkalis )

 

Antara George Orwell dan Enemy of the State, sama sekali tidak memiliki hubungan langsung. Yang satu, George Orwell, merupakan nama pena dari Eric Arthur Blair, seorang Jurnalis, kritikus, essais, dan penulis novel terkenal berkebangsaan Inggris. Beliau lahir pada 25 June 1903 dan meninggal dunia pada 21 Januari 1949. Ada dua bukunya yang sangat terkenal di dunia, yaitu Animal Farm dan Nineteen Eighty Four [1984].

Enemy of the State pula merupakan sebuah judul film Box Office Hollywood. Film yang dirilis pada bulan November 1998 ini dibintangi oleh Will Smith dan Gene Hackman, dan pembuatannya menghabiskan biaya sebesar $90 Juta. Saya sudah menontonnya berkali-kali, dan tetap menyukainya.

Meski tak memiliki hubungan langsung, dan bahkan berjarak sekitar 49 tahun, namun antara George Orwell dan Enemy of the State, tetap dapat dipertemukan, khususnya dalam sudut pandang mereka tentang bagaimana negara, atau kelompok kekuasaan, menggunakan segala cara dan memakai fasilitas negara, untuk melakukan cengkeraman terhadap rakyat, atau suatu komunitas. Itu semua dilakukan demi berbagai syahwat, baik politik, kekuasaan, maupun ekonomi.

George Orwell, mungkin seorang sastrawan “kasyaf”. Pada tahun 1949, menjelang kematiannya, Ia menulis buku yang berjudul “1984” [Nineteen Eighty Four]. Buku ini berkisah tentang “dystopian state/future”, yaitu sebuah wilayah atau negara imajiner di masa depan, di mana warganya menjalani kehidupan yang tidak manusiawi dan sering mengalami ketakutan.

Warga negara dicuci otaknya dengan berbagai doktrin, langkahnya dimata-matai oleh semacam intel, setiap gerak geriknya terawasi dengan seksama, dan mereka bak hidup dalam rumah kaca yang transparan dan semua hal bisa dilihat. Penguasa, melalui kekuatan pendukungnya, seperti media, orang cerdik pandai, kekuatan finansial, dan lainnya, terus mengintimidasi pikiran rakyat dengan ideologi yang diinginkan, sampai mereka berada dalam suatu kondisi kepatuhan total, dan kemudian hanya mencintai satu orang, atau suatu kekuataan yang disebut dengan : BUNG BESAR.

Sementara Enemy of the State, mengisahkan tentang orang penting di Amerika, secara beringas menggunakan fasilitas NSA [National Security of Agency] untuk menyelamatkan kepentingannya. Mereka menyadap orang yang dicurigai, menciptakan rekayasa demi rekayasa, dan bahkan masuk ke ruang-ruang pribadi warga, dengan satu alasan yang dibuat-buat: bahwa orang tersebut adalah musuh negara [musuh negara dalam tafsir mereka sendiri]. Mereka tidak peduli bahwa perbuatan itu melanggar undang-undang, menista nilai-nilai kemanusiaan, ataupun melanggar hak asasi. Yang penting, syahwat mereka terselamatkan, dan kepentingan besar mereka sampai pada tujuan.

Karya George Orwell dan Enemy of the State, dalam kurun waktu dan cara yang berbeda, meneropong masalah yang sama. Itu mungkin hanya karya fiksi, tapi juga bukan. Imajinasi tidak selalu datang dari kekosongan dan ketiadaan, tapi juga hadir dari kecenderungan dan kemungkinan, atau bahkan dari kenyataan.

Beberapa dekade yang lalu, dalam era perang dingin, zaman perseteruan blok barat dan timur, beberapa negara blok timur, seperti Rumania, Jerman Timur, Uni Sovyet, melakukan apa yang ditulis oleh Orwell: menjejali rakyatnya dengan doktrin. Mereka meminta rakyat mereka untuk percaya secara membabi buta terhadap ideologi yang mereka buat. Setiap waktu mereka membuat slogan-slogan baru, dalam bentuk menyalahkan pihak lawan, agar militansi rakyat terbentuk seperti yang diharapkan.
Mereka juga memata-matai setiap langkah warga, agar tidak ada yang membelot. Media secara massive, membenarkan segala langkah penguasa dalam menutup kebenaran. Lawan politik dihabisi dengan berbagai cara, baik lembut maupun brutal. Segala peristiwa direkayasa, karakter musuh dibunuh secara sistematis, segala kesalahan masa lampau dikemas dalam bentuk kekinian, seolah baru kemarin terjadi. Bagi yang tidak salah, tapi dianggap berseberangan, diciptakan kesalahan, dengan menggunakan segala fasilitas negara yang dikuasai secara penuh oleh mereka.

Tapi akhirnya sejarah mengajarkan kepada kita, bahwa kekuasaan yang seperti itu, selalu gagal mempertahankan diri, ia melapuk oleh waktu, karena ia berhadapan dengan fitrat “kehendak bebas” manusia, karena ia tak mampu menahan panasnya cahaya kebenaran. Nicolae Causescu tumbang di Rumania, Syah Iran terusir dari negeri sendiri, Uni Sovyet, melalui Glasnost dan Perestroika pun terbelah di kaki zaman. Kekuatan yang terbangun dengan konspirasi, pada waktunya akan retak dan koyak ketika membentur pohon kebenaran yang kokoh, sasa, dan kawi. Bahkan pada hari ini, negara seperti Korea Utara, yang masih menggunakan pola itu, hanya mampu bergemuruh dalam keterasingannya sendiri, seperti lelaki tua yang dicintai sepi, menceracau dalam kesendiriannya yang fana.

Kekuasaan yang mendatangi rakyatnya dengan tekanan, adalah sebuah kekuasaan yang takut, murung, dan rapuh, sebuah kekuasaan yang gagal menjaga “perjanjian” dengan dirinya sendiri. Ketakutan dan kerapuhan, memang memerlukan tembok dan benteng, karena itulah satu-satunya cara bertahan yang paling mungkin. Kekuasaan yang berhasil, akan mendatangi rakyat dengan senyuman dan kegembiraan, sebab mereka tahu kemarahan akan mereda di depan senyuman, dan perlawanan akan berlutut di depan kegembiraan dan kesejahteraan.

Bekerja dengan sungguh-sungguh dalam memenuhi kemaslahatan umat, merupakan cara yang paling ampuh dan elegan bagi kekuasaan untuk “menguasai” rakyat. Kalau kekuasaan membuka hati, rakyat akan mengisinya dengan cinta, jika kekuasaan mendatangi rakyat dengan rindu, maka rakyat akan menyediakan dirinya menjadi kekasih, jika kekuasaan memberi teladan, rakyat akan memagarinya dengan kemuliaan. “An-nasu ‘ala dieni mulkihim”, sikap orang banyak itu tergantung sikap dan perilaku pemimpinnya.

Percayalah, respon rakyat itu selalu seimbang. Ketika pemerintah Inggris menekan kelompok IRA, Irlandia, maka mereka pun merespon dengan cara yang sama, melakukan perlawanan dengan cara yang sulit diduga. Hal yang sama terjadi di Moro, Mindanao, Palestina, dan berbagai wilayah yang hidup dalam tekanan. Yakinlah, semakin dalam menekan bola ke dalam air, maka akan semakin keras pantulannya ke udara. Kalau kekuasaan menebar benci, rakyat akan memulangkannya dalam bentuk dendam, jika kekuasaan memberi luka, rakyat akan menjadikan darahnya sebagai senjata, dan jika kekuasaan memberi pedih, rakyat akan menggulungnya dengan gelombang airmata.

Sekali lagi. Kuasailah rakyat dengan kasih sayang. Penggalan nasehat Taher bin Husain kepada anaknya Abdullah bin Taher, ketika diangkat menjadi pemimpin Mesir, mungkin baik untuk kita jadikan renungan: “Bekerjalah meluruskan diri sendiri. Tunjukkan kepada rakyat, bahwa Engkau tiada terpengaruh oleh hawa nafsu dan sewenang-wenang. Jalankan siasah dengan adil, dirikan kebenaran, karena dengan keadilan dan kebenaran itu akan membuat engkau menemukan jalan yang diberikan petunjuk. Hendaklah berbuat kebaikan kepada sesamamu, perbaikilah nasib rakyatmu, makmurkan kampung halamannya, selidiki segala ihwalnya, peliharakan darahnya, dan bantulah orang-orang yang sengsara. Dalam menegakkan hukum terhadap rakyat janganlah terpengaruh oleh rasa sayang atau benci, jangan terpengaruh karena kemampuan mengambil hati ataupun cercaan. Sesungguhnya dengan mendirikan keadilan di dalam segala perbuatan, maka amanlah perjalanan dan tidaklah akan ada orang yang teraniaya. Bila rakyat menerima haknya, kehidupannya sentosa, maka merekapun akan membayar kewajibannya dalam bentuk ketaatan”.

Apa yang ternukil dalam novel “1984” karya George Orwell dan film Enemy of the State, jangan sampai pernah terjadi di negara kita. Di Indonesia? Jangankan di alam nyata, di dalam mimpi pun kita tidak berharap. Tapi… tapi entah mengapa, ketika menulis kalimat yang terakhir ini, tanganku terasa bergetar. Wallahu a’lam.

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)